Tuesday, May 28, 2019

√ Maladaptive Daydreaming, Dikala Terdiam Lebih Menyenangkan

Hampir semua insan pernah mengalami dimana harus terdiam untuk menenangkan pikiran dalam kondisi tertentu. Biasanya seseorang mulai terdiam ketika sedang kesepian, putus cinta, ditinggal oleh orang tersayang (meninggal), dan lainnya. itu sangat masuk akal terjadi pada kita.


Tapi ada beberapa orang yang mengalami hal serupa, terdiam juga hanya saja intensitas dan contoh lamunannya itu yang berlebihan, kita dapat sebut orang tersebut yakni Maladaptive Daydreaming (MD). Apakah orang-orang yang mengalami ini termasuk dalam gangguan jiwa? mari kita lihat maladaptive daydreaming itu ibarat apa.

Hampir semua insan pernah mengalami dimana harus terdiam untuk menenangkan pikiran dalam √ Maladaptive Daydreaming, Ketika Melamun Lebih Menyenangkan


Apa itu Maladaptive Daydreaming?

Maladaptive Daydreaming atau MD yakni dimana kondisi seseorang terjebak dalam fantasi atau lamunannya sehingga dapat menghabiskan hingga beberapa jam setiap harinya hanya untuk terdiam saja. Orang yang mengalami MD seolah-olah menjadi tokoh dalam lamunannya dan membuat dongeng menurut kondisi mood ketika itu. Kadang juga pengidapnya mengalami kondisi emosional dalam lamunannya sehingga beliau dapat ketawa, sedih, murka dan bahkan berbicara sendiri.

Pengidap Maladaptive Daydreaming juga sadar bahwa apa yang ada di lamunannya yakni sesuatu hal yang fiktif atau tidak nyata. Mereka akan aib juga ketika beliau terdiam dan berbicara sendiri jikalau ada orang lain yang mengetahui atau melihatnya.


Gejala Maladaptive Daydreaming


1. Melamun dalam waktu yang usang perharinya
Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya bahwa pengidap maladaptive daydreaming ini akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk terdiam daripada melaksanakan sesuatu hal yaang lebih bermanfaat. Bahkan pengidap MD akan dapat lupa segalanya ketika terdiam mulai melanda ibarat lupa makan, mandi, schedule lainnya pada hari itu. Walaupun hanya terdiam sekitar 10-15 menit, tapi intensitas yang lebih sering yang membuat mereka dapat seharian hanya terdiam saja.

2. Emosional dalam lamunan yang relate dengan kehidupan nyata
Pengidap MD senantiasa menyalurkan emosional yang ada didalam lamunannya dan aplikasikan dalam kehidupan yang bahwasanya contohnya dapat berbicara sendiri, menangis, tertawa dan lainnya. Tapi orang yang terkena maladaptive daydreaming dapat sadar bahwa dirinya sedang berkhayal.

3. Jenis lamunan yang rumis dan detail
Tidak ibarat kebanyakan orang yang melamun, pengidap MD akan terdiam dengan topik-topik yang rumit dan detail bahkan lebih rumit dari penggambaran dari dongeng sebuah novel. Mereka akan memposisikan dirinya dari apa yang sedang beliau pikirkan sehingga dirinya akan menjadi tokoh utama dalam sebuah dongeng yang alur ceritanya mereka gerakkan sendiri.

4. Praktis terbawa suasana yang alhasil melamun
Ketika pengidap maladaptive daydreaming sedang sendirian/kesepian senantiasa mereka akan ada ibarat dorongan untuk mulai melamun. Klo orang-orang biasa ketika kesepian pastinya akan main keluar atau bermain game atau menonton youtube atau lainnya yang melaksanakan aktifitas aktif sedangkan pengidap MD lebih memposisikan diri untuk melamun. Tidak hanya sedang kesepian saja ketika mereka mendengarkan musik, menonton film, membaca novel, dan lainnya akan sangat gampang untuk terbawa dan menggambarkan dalam sebuah lamunannya


Dampak Maladaptive Daydreaming


1. Kesulitan konsentrasi
Ini niscaya akan dirasain sama pengidap DM alasannya yakni terlalu seringnya kita terdiam membuat konsentrasi kita setiap ketika selalu pecah sehingga kita tidak dapat terlalu fokus akan satu hal yang sedang dikerjakan. Namun jikalau tidak ada pemicu untuk membuat kita terdiam mereka juga dapat fokus kok ibarat halnya orang-orang lainnya.

2. Kurang produktif
Karena banyak faktor yang memicu kita untuk terdiam sehingga sesuatu hal yang harus kita kerjakan terkadang tidak selesai sempurna waktu. Misalnya ketika kita berguru yang harusnya dapat mengerjakan kiprah hanya 10 menit, alasannya yakni kau terdiam dapat selesai hingga berjam-jam. Rugi banget kan klo hingga gitu.

3. Kehidupan sosial yang terganggu
Intensitas terdiam yang berlebihan membuat mereka menutup diri untuk bersosial dengan lingkungannya alasannya yakni mereka menganggap bahwa terdiam lebih mengasyikan daripada harus bergaul dengan banyak orang. Kebanyakan orang-orang yang mengidap maladaptive daydreaming yakni seorang introvert alasannya yakni ini sangat relate banget dengan kriterianya.


Perbedaan Maladaptive Daydreaming dengan Skizofrenia

MD dan skizofrenia mempunyai kesamaan yaitu kondisi terdiam yang berlebihan dan membuat sebuah dongeng atau fantasi didalam lamunannya. Tetapi untuk skizofrenia beliau terjebak dalam lamunannya dan tidak dapat membedakan antara dunia khayalan dengan dunia nyatanya. Mereka menganggap apa yang terjadi dalam lamunannya yakni sesuatu yang sedang beliau alami didunia nyata. Sedangkan maladaptive daydreaming beliau sadar bahwa lamunannya hanya sekedar khayalan semata.


Cara mengatasi Maladaptive Daydreaming


1. Terbuka ke keluarga atau orang terpercaya
Cobalah untuk menceritakan sama keluarga terutama orang tua, kakak/adik bahkan dapat juga ke sahabat atau orang lainnya yang kau percaya. Meski kita tahu bahwa keluarga akan menganggap kita hanya terbawa sugesti saja atau menceritakan sesuatu yang mengada-ngada. Mereka tidak tahu apa yang kita alami, harusnya mereka memperlihatkan solusi kepada kita dan mengapresiasi alasannya yakni kita berani untuk terbuka dan bercerita sama orang tua, gak banyak orang loh yang berani terbuka sama orang renta wacana masalahnya atau jikalau kau tidak mendapat solusi dari orang-orang sekitar, coba untuk tiba ke psikolog alasannya yakni niscaya kau akan mendapat solusinya dari orang yang lebih profesional.

2. Setting Alarm
Karena pengidap maladaptive daydreaming tidak dapat mengontrol dirinya ketika melamun, lebih baik kau coba pasang alarm setiap beberap menit sekali biar kau dapat tahu waktu dan mencegah kau terdiam lebih usang lagi dan kau dapat setting alarm setiap15-30 menit sekali itu udah cukup lah.

3. Tuangkan dalam sebuah tulisan
Kita terdiam dan membuat dongeng sendiri dalam lamunan, bagaimana klo kita manfaatkan kekurangan kita menjadi sebuah karya yang dapat dibaca orang banyak suatu ketika nanti. Misalnya dari dongeng yang kita pikirkan tuangkan dalam sebuah blog atau media lainnya dan dapat saja hasil-hasil dari goresan pena kita dapat menjadi sebuah novel. "Orang yang andal yakni orang yang dapat mengolah kekurangan kita menjadi sebuah kelebihan baru." --

4. Jauhi pemicu Maladaptive Daydreaming
Setelah kita tahu gejala-gejala MD dan pemicunya, cobalah kau untuk menghindari sendirian dikamar, tiduran sambil mendengakan musik dan lainnya yang mempunyai suasana yang sepi atau sunyi yang akan memicu kau untuk dapat melamun. Perbanyak aktifitas yang melibatkan kau dengan orang banyak atau kesibukkan-kesibukkan yang akan membuat kau lupa atau bahkan tidak sempat untuk melamun.

Itu sedikit warta wacana maladaptive daydreaming, jikalau bermanfaat jangan lupa share keteman dan media umum kau biar mereka tahu apakah mereka mengalami maladaptive daydreaming atau tidak. Berkomentar juga jikalau kau ingin bercerita wacana kondisimu atau mempunyai saran lain seputar maladaptive daydreaming.

Sumber http://www.robbyjungjunan.com