Monday, February 19, 2018

√ Lima Guru Inspiratif Jawa Barat Terima Een Sukaesih Award 2017

 


Lima Guru Inspiratif Jawa Barat Terima Een Sukaesih Award  √ Lima Guru Inspiratif Jawa Barat Terima Een Sukaesih Award 2017
Malam Penganugerahan Een Sukaesih Award 2017

LIMA guru di Jawa Barat mendapatkan anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat Een Sukaesih Award (ESA) 2017. Ajang apresiasi untuk para guru atau tenaga pendidik yang kedua kalinya ini digelar di Aula Barat Gedung Sate, Jl. Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu malam, 29 November 2017.


Kelima akseptor penghargaan tersebut adalah:



  1. Kategori Pendidikan Nonformal: Nenden Marliah, Paud UMMI (Kabupaten Garut);

  2. Kategori TK: Lia Yulianingrum, TKA Plus Al-Lukman (Kabupaten Majalengka);

  3. Kategori SD/MI/SDLB: R. Histato Dayanto Kobasah, SDN Dewi Sartika (Kota Sukabumi);

  4. Kategori SMP/MTS/SMPLB: Mardiah, SMPN 3 Padalarang (Kabupaten Bandung Barat); dan

  5. Kategori SMA/SMK/MA/SMALB: Endang Yuli Purwati, SMAN 4 (Kota Bandung).


Ajang Een Sukaesih Award pertama kali digagas oleh harian Inilah Koran pada 2015 lalu. Tahun ini Inilah Koran dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan mempersembahkan ESA 2017 dengan sponsor utama Bank BJB.







Een Sukaesih yakni seorang tenaga pendidik asal Kabupaten Sumedang yang menjadi inspirator bagi para guru di Jawa Barat. Meskipun menderita lumpuh dan hanya bisa berbaring di tempat tidur tidak menyurutkan semangat Een menawarkan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya hingga selesai hidup menjemput.


Melalui ESA 2017, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan, telah lahir para p0juang pendidikan atau Een Sukaesih lain yang layak menerima apresiasi. Aher ingin nilai kebaikan yang dimiliki Een tidak hilang begitu saja.


“Kita ingin nilai kebaikan yang dikenal luas dan dimiliki oleh Bu Een Sukaesih itu tidak ditinggalkan begitu saja, hidup tanpa dipelihara. Kita ingin hidup terus menerus dan menggema di kehidupan pedidikan di Indonesia. Khususnya di masyarakat Jawa Barat,” harap Aher ditemui usai program Malam Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat ESA 2017.


“Para pemenang ESA 2017 ini hebat-hebat. Ini ide bagi yang lain. Dan Een Sukaesih berikutnya sudah muncul. Saya kira para juara ini yakni Een Sukaesih yang lainnya,” lanjutnya.


Menghadapi generasi milenial


Aher menambahkan bahwa berguru atau mengajar ketika ini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan dukungan teknologi. Namun, kata Aher urusan figur, ketokohan, dan teladan kepemimpinan diharapkan sosok yang bisa menjadi teladan bagi generasi berikutnya, yaitu sang guru.


“Saya tekankan bahwa yang namanya transfer knowledge bisa tanpa orang, transfer skill bisa tanpa orang meskipun tidak sempurna. Tapi transfer value, nilai-nilai kehidupan dan nilai luhur rasanya sulit jika tanpa guru. Oleh alasannya yakni itu, sosok guru sebagai teladan kehidupan, di samping dia (guru) mentransfer pengetahun dan skill-nya tapi juga transfer nilai itu yang tidak bisa tergantikan,” papar Aher.


Aher berpesan kepada para guru dalam menghadapi tantangan generasi milenial ketika ini. Guru atau tenaga pendidik harus bisa mengikuti keadaan dengan tuntuan zaman. Selain meningkatkan kapasitas dan ilmu pengetahuannya, guru mesti bisa memahami zaman dengan baik, serta bisa menghadirkan kepribadian yang tahan dalam menghadapi perubahan zaman.


“Saya kira jika guru tangguh menyerupai itu apapun zaman perubahannya, zaman now diikuti, zam now now berikutnya diikuti, zaman new now berikutnya bisa diikuti. Tidak akan duduk masalah saya kira,” tutur Aher.


Untuk itu, Aher mengungkapkan bahwa guru mutlak diharapkan khususnya dalam dunia pendidikan. Tidak mungkin pengetahuan akan hingga kepada murid dengan saksama dan melalui hati yang tulus tanpa hadirnya seorang guru.


“Mari kita maknai ESA 2017 ini menjadi pemaknaan yang sangat mendalam bahwa pendidikan membangun masa depan umat manusia. Pantas para pakar menyatakan bahwa mustahil ada peradaban yang utuh tanpa kehadiran guru, mustahil ada peradaban yang meliputi peradaban rohani dan materi sekaligus tanpa hadirnya seorang guru,” pungkas Aher dalam sambutannya di program Malam Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat ESA 2017.


Para akseptor penghargaan ESA 2017 menerima piagam penghargaan dan uang kadeudeuh masing-masing sebesar Rp 20 juta. Selain itu, secara simbolis Aher juga menawarkan uang training kepada Yayasan Rumah Pintar Een Sukaesih sebesar Rp 50 juta. Tidak hanya pemenang, para guru atau tenaga pendidik nominator ESA 2017 sebanyak 27 orang menerima hadiah uang masing-masing Rp 2,5 juta dalam bentuk tabungan BJB Cinta Guru.


Berkomitmen melaksanakan yang lebih


Salah satu akseptor penghargaan Kategori SD/MI/SDLB, R. Histato Dayanto Kobasah (41) merasa terkejut dirinya menerima ESA 2017. Pria yang setiap harinya menjadi guru di SDN Dewi Sartika Kota Sukabumi ini mengaku akan melaksanakan sesuatu yang lebih bagi dunia pendidikan di Sukabumi usai Malam Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat ESA 2017.


“Saya harus melaksanakan dua kali lipat dari pekerjaan semula, sehabis membangun beberapa PKBM di Kota Sukabumi termasuk kelompok berguru TBM, Paket B, Paket C. Kemudian menggelorakan masyarakat Kota Sukabumi melalui Sukabumi Gemar Membaca, kemudian adanya kegiatan-kegiatan yang bekerjasama dengan membaca di Kota Sukabumi,” ungkap laki-laki pencetus Pohon Literasi tersebut.


Histanto mengaku sosok seorang Een Sukaesih telah menjadi ide bagi dirinya. Hal yang menimpa Ees Sukaesih juga pernah dialami Histanto. Pada 2007 kemudian Histanto pernah lumpuh selama delapan bulan dan hal yang sama juga terjadi pada 2010, sehingga impian hidupnya pun kecil.


“Namun sehabis melihat dia (Ees Sukaesih) saya semakin kuat. Saya ingin mengajak autoristik saya, filantropis saya untuk orang lain. Harta dan semuanya,” terperinci Histanto yang telah 11 tahun berprofesi menjadi seorang guru.


Berbagai hal telah dilakukan oleh Histanto untuk mendorong muridnya di SDN Dewi Sartika Kota Sukabumi. Seperti menciptakan rak buku talang air, lukisan dinding, pohon literasi, buku penghubung, menulis halus, buku cerdas, serta menyediakan aneka macam buku lainnya yang bisa menciptakan murid berkarakter biar berperilaku baik.


“Kami menganggap bahwa olah hati ini jauh lebih ahli dari olah pikir. Karena olah hati yang dibawa oleh keteladanan oleh saya sebagai guru di sekolah membawa siswa-siswa menjadi lebih baik, semakin sholeh dan peduli, sehingga menjadi cendekia dan terampil,” tutur laki-laki hobi lukis ini.


Salah satu terobosan Histanto yaitu Pohon Literasi di tempanya mengajar yang terinspitrasi oleh seorang wanita berjulukan Mia Damayanti. Melalui konsep Pohon Literasi ini, para siswa diajak memaknai dan memahami apa yang telah dibaca melalui sebuah ulasan atau review. Kemudian ulasan tersebut akan menghasilkan daun yang bisa ditempel di Pohon Literasi. Semakin banyak daun maka siswa tersebut semakin banyak membaca buku.


Ikhlas mendidik 26 anak


Endang Yuli Purwati (58) merupakan akseptor ESA 2017 Kategori SMA/SMK/MA/SMALB. Dia sudah menjadi guru selama 32 tahun. Perempuan yang masih mengajar di Sekolah Menengan Atas Negeri 4 Kota Bandung ini terpanggil hatinya untuk membantu bawah umur yang ditinggal pergi orang bau tanah dan keluarganya.







Endang mengaku tidak menyangka bisa menerima ESA 2017. Perlu diketahui bahwa para nominator ESA 2017 tidak mengetahui namanya telah didaftarkan kepada panitia. Sebagian besar dari mereka didaftarkan oleh pihak lain.


“Alhamdulillah, tidak menyangka bisa sanggup ESA. Saya terkaget-kaget dengan teman-teman (nominator ESA 2017) yang melaksanakan aneka macam kegiatan, Masya Allah luar biasa. Jadi, saya malah berguru saja sama mereka,” ucap Endang ketika ditemui Tim Peliput Humas Jabar usai Malam Anugerah ESA 2017.


Dengan tulus dan kerelaan hati, bersama sang suami, Endang hingga sekarang masih bersama ke-26 orang anaknya tersebut. Dengan biaya sendiri serta dukungan dari aneka macam pihak Endang berhasil menawarkan pendidikan kepada anak-anaknya.


“Anak kandung saya empat dan yang 22 itu anak asuh. Saya tidak pernah mengumpulkan mereka, tapi mereka tiba kepada saya. Setelah mereka di rumah ya saya coba menawarkan ide dan motivasi kepada mereka,” kata wanita yang 21 bulan lagi akan pensiun sebagai guru namun akan terus berkomitmen mengabdi untuk dunia pendidikan.


Endang mengaku yang tiba ke rumahnya tidak hanya dari Bandung tapi juga dari aneka macam tempat di Indonesia, menyerupai Pekanbaru, Jambi, Manado, dan tempat lainnya. Dari 26 anaknya tersebut, 13 diantaranya ketika ini masih menempuh pendidikan di pondok pesantren, serta ada pula anaknya sudah menjadi Sarjana dan Dokter.


Bahkan salah seorang anaknya yang ketika ini duduk di Kelas 12 di pondok pesantren akan berangkat ke Kota Madinah, Arab Saudi pada Januari 2018 mendatang. Dia kan mengikuti tes alasannya yakni ditawari kuliah di Universitas Madinah. “Karena memang saya akan menyekolahkan mereka sekolah di luar negeri ya. Karena biar gratis, cari yang gratis saja. Tapi hingga hari saya belum pernah meminta-minta digratiskan alasannya yakni kebetulan bawah umur kami sekolah di pondok pesantren,” kisah Endang sambil tertawa.


Sosok Een Sukaesih dimata Endang yakni wanita luar biasa. Endang memang telah mengenal Een sebelumnya. Menurut Endang, Een memang sangat pantas dijadikan public figure dan ide para guru. “Karena bagaimana pun dengan kondisi menyerupai itu, dia (Een) masih semangat untuk mengajar. Artinya walaupun saya sedang bermasalah dengan kaki dilarang merasa tidak sanggup untuk mengajar,” tukas Endang.


Pada kesempatan ini, Endang juga berpesan kepada para akseptor ESA 2017 tetap tulus mengabdi menjadi guru atau tenaga pendidik tanpa iming-iming. Apa yang sudah dilakukan untuk anak didiknya biar bisa menjadi amal sholeh yang dicatat oleh Allah SWT.


“Orang yang tiba ke sini (Anugerah ESA 217) teman-teman yang luar biasa yang saya lihat. Tapi tolong dijaga amal sholehnya itu jangan hingga jadi festival amal sholeh. Karena perlombaan amal sholeh ini mengerikan, nanti bisa jadi alasannya yakni ingin mendapatkan hadiah atau penghargaan. Saya khawatir malah hati mereka tercemar,” pesan Endang.


Berita ini Disitat dari Pikiran Rakyat, untuk melihat artikel aslinya silakan KLIK DISINI


Sumber Gambar: Pikiran Rakyat



Sumber aciknadzirah.blogspot.com