20+ Cara Mendidik dan Mengajar Anak SD Yang Baik dan Benar_ Anak yang berada di kelas awal SD yaitu anak yang berada pada rentangan anak usi dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek, tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi seseorang anak.
Oleh lantaran itu, pada masa ini seluruh potensi yang di miliki anak perlu di dorong sehingga akan berkembang secara optimal. Lantas bagaimana cara mendidik anak SD, mulai dari kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. berikut ulasannya untuk anda.
1. Guru sebaiknya memahami karakteristik anak mulai dari kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5 dan kelas 6
Salah atu hal yang utama untuk dipahami oleh guru yaitu karakteristik perkembangan anak pada usia SD. Karakteristik perkembangan anak pada usia SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan. Mereka telah bisa mengontrol badan dan keseimbangannya. Mereka telah sanggup melompat dengan kaki secara bergantian, sanggup mengendarai sepeda roda dua, sanggup menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan matanya untuk sanggup memegang pensil maupun memegang gunting.
Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Pelajaran
Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD, antara lain mereka telah sanggup mengambarkan keakuannya ihwal jenis kelaminya, telah mulai berkompetisi dengan sobat sebaya, menpunyai sahabat, telah bisa menyebarkan dan sanggup berdiri diatas kaki sendiri Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang sangat penting dan tidak sanggup di pisahkan dari perjalanan hidup manusia.
Pertumbuhan dan perkembangan insan bersifat permanen, dalam arti pertumbuhan dan perkembangan berlangsung selama insan hidup dan berakhir bersamaan dengan berakhirnya insan (meninggal dunia). Setiap individu secara kodrat membawa variasi dan irama pertumbuhan dan perkembangan sendiri-sendiri.
Hal ini mengakibatkan setiap individu mempunyai perbedaan-perbedaan. Teori berkaitan dengan perkembangan psikologi dan intelektual siswa di sekolah dasar di jabarkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget, proses berguru sanggup berlangsung sesudah terjadi proses pengolahan data yang aktif di pihak pembelajar. Pengolahan data yang aktif merupakan acara lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan di lanjutkan dengan kegiatan penemuan.
Piaget beropini bahwa “apa yang sudah ada pada diri seorang siswa (kapasitas dasar kemampuan intelektualnya atau sanggup di sebut dengan istilah skema) yaitu dasar untuk mendapatkan hal yang baru.” Skema berfungsi mengatur interaksi siswa dengan lingkungan sekitarnya” (Hasan, 1996:30). Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkatan perkembangan
intelektual mempunyai ciri-ciri terdiri, antara lain:
2. Guru sebaiknya memahami tingkatan perkembangan intelektual anak menurut usia
Next tips mengajar di SD yang baik dan benar yaitu guru harus memahami tingkatan perkembangan anak menurut usia. Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkatan perkembangan:
A. Tahap pra-operasional (2-7 tahun)
Tahap pra-operasional (2-7 tahun) tahap berpikir pra-konseptual (2-4 tahun) yang di tandai dengan mulainya pembiasaan terhadap symbol, mulai dari tingkah laris berbahasa, acara imitasi dan permainan.
B. Tahap berpikir intuitif (4-7 tahun)
Kemudian pada tahap berpikir intuitif (4-7 tahun) di tandai oleh berpikir pralogis yaitu antara operasional konkret dengan prakonsektual. Pada tahap ini perkembangan ingatan akseptor didik sudah mulai mantap, tetapi kemampuan berpikir deduktif dan induktif masih lemah/belum mantap.
C. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Perkembangan intelektual siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret (7-11 tahun) yang di tandai oleh kemampuan berpikir konkret dan mendalam, bisa mengklasifikasi dan mengontrol presepsinya. Pada tahap ini, perkembangan kemampuan berpikir siswa sudah mantap, kemampuan skema asimilasinya sudah lebih tinggi dalam melaksanakan suatu koordinasi yang konsisten antar skema (Muhibin, 1995:67).
Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar tersebut akan memengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran yang di selenggarakan guru. Oleh lantaran itu, kegiatan pembelajaran Sains, Bahasa Indonesia, dan Budi Pekerti serta mata pelajaran lainya di arahkan pada pendekatan “meaningful learning” yang didasarkan kepada pengembangan kemampuan berpikir di sesuaikan dengan biopsikologis siswa yang hendaknya di jadikan tolok ukur guru, baik dalam pengembangan materi, taktik mengajar, pendekatan, media maupun dalam melaksanakan penilaian hasil belajar.
Dewey mengungkapkan bahwa “education is growth, development, life”. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan juga bersifat kontinu yang merupakan reorganisasi, rekonstruksi, dan pengubahan pengalaman hidup, dan juga perubahan pengalaman hidup (Sukmadinata, 2002:34).
Pembelajaran tematik sebagai suatu konsep sanggup di katakan sebagai pendekatan berguru mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memperlihatkan pengalaman yang bermakna kepada anak. Di katakana bermakna lantaran dalam pembelajaran tematik, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman eksklusif dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang mereka pahami.
3. Guru sebaiknya memahami cara anak SD belajar
Salah satu prinsip pendidikan yaitu proses pembudayaan dan pemberdayaan akseptor didik yang berlangsung sepanjang hayat atas dasar kasih sayang. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak mempunyai cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif).
Menurutnya, setiap anak mempunyai struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman ihwal objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan fasilitas (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).
Kedua proses tersebut jikalau berlangsung terus-menerus akan membuat pengetahuan usang dan pengetahuan gres menjadi seimbang. Dengan cara menyerupai itu secara sedikit demi sedikit anak sanggup membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, sikap berguru anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam diri dan lingkungannya.
Kedua hal tersebut mustahil dipisahkan lantaran memang proses berguru terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai memperlihatkan sikap berguru sebagai berikut:
1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak;
2) Mulai berpikir secara operasional;
3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk megklasifikasikan benda-benda;
4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan alasannya akibat; dan
5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan berguru anak usia sekolah dasar mempunyai tiga ciri, yaitu:
1. Konkret
Konkret mengandung makna proses berguru beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang sanggup dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik pemfokusan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil berguru yang lebih bermakna dan bernilai alasannya siswa dihadapkan dengan insiden dan keadaan sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih sanggup dipertanggung jawabkan.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum bisa memilah-milah konsep dari banyak sekali disiplin ilmu. Hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke penggalan demi bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak berguru berkembang secara sedikit demi sedikit mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipehatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.
4. Guru sebaiknya memahami 4 pilar pendidikan
Pada 1996 Commision On Uducation For The Twenty-Furst Centuri memberikan proposal kepada UNESCO bahwa pendidikan sepanjang hayat sebagai suatu bangunan yang di topang oleh 4 pilar. Pada 1998 UNESCO merencanakan 4 pilar pendidikan tersebut, yaitu :
a. Learning To Know, yang juga berarti learning to learn, yaitu berguru untuk memperoleh pengetahuan dan untuk melaksanakan pembelajaran selanjutnya;
b. Learning To Do, yaiti belajat untuk mempunyai kompetensi dasar dalam berafiliasi dengan situasidan tim kerja yang berbeda-beda;
c. Learning To Be yaitu berguru untuk mengatualisasikan diri sebagai individu dengan kepribadian yang mempunyai pertimbangan dan tanggung jawab pribadi ( Abdul Majid, 2004 :1 ).
d. Learning To Life Together, yaitu berguru bisa mengapresasikan dan mengamalkan kondisi saling ketergantungan, keaaneka ragaman memahami dan perdamayan interen dan antar bangsa
Dengan demikian, keluaran proses pendidikan meruapakan suatu pribadi utuh dengan keunggulan secara berimbang dalam aspek spriltual, sosial, intelektual, emosional dan fisikal juga pendidikan yang mempersiapkan akseptor didik untuk memperoleh kebahagian hidup secra seimbng antara kehidupan dunia dan akhirat, antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bersama.
Untuk sanggup menyelaraskan perkembangan kemampuan dasar anak secara optimal, dibutuhkan kreaktivitas guru untuk menentukan alternatif model pembelajaran yang menekankan pada acara dan kreaktivitas serta karakterisistik anak sehingga proses berguru mengajar lebih efektif. Kemampuan dasar penting sekali tertanam dengan berpengaruh di tingkat sekolah dasar.
5. Guru perlu memperhatikan beberapa prinsip latar, prinsip berguru sambil bekerja, prinsip belajar sambil bermain, dan prinsip keterpaduan.
Pada pengembanganya, anak usia sekolah dasar cenderung suka bermain, mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan gampang terpengaruh oleh lingkungannya sehingga pembelajaran di sekolah dasar harus di usahakan biar tercipta suasana siswa yang aktif dan menyenangkan.
Untuk itu, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip latar, prinsip berguru sambil bekerja, prinsip
berguru sambil bermain, dan prinsip kterpaduan ( depdikbud, 1995: 1-2 ). Lebih jelasnya prinsip-prinsip itu yaitu sebagai berikut.
1) Prinsip latar yaitu suatu keadaan dimana siswa telah mengetahui hal lain baik secara eksklusif atau tidak eksklusif terhadap materi yang akan di pelajari. Hal tersebut perlu di dasari oleh guru tidak terjadi ke kosongan dalam pembelajaran. Artinya siswa tidak merasa absurd atas apa yang akan diajarkan.
2) Prinsip berguru sambil bekerja merupakan hal yang sangat penting bagi siswa lantaran penglaman yang de peroleh melalui bekerja meruapakan hasil berguru yang tidak muda di lupakan. Selain itu,
siswa memperoleh kepercayaan diri, merasa senang dan puas lantaran kemampuannya sanggup disalurkan dan sekaligus sanggup melihat hasil.
3) Prinsip berguru sambil bermain merupakan keevektivan yang sanggup menjadikan suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar. Suasana menyerupai ini akan mendorong siswa untuk lebih ulet belajar. Oleh lantaran itu, guru harus sanggup membuat bentuk permainan yang kreatif dan menarik dalam memberikan materi pembelajaran kepada siswa.
4) Prinsip keterpaduan merupakan hal penting dalam pembelajaran. Oleh lantaran itu, guru di harapkan biar dalam memberikan makteri pembelajaran hendaknya mengaitkan antara konsep yang satu dengan yang lainnya. Memadukan konsep atau materi pembelajaran intinya sanggup membantu siswa dalam menyerap pengetahuan yang di berikan oleh guru sehingga pembelajaran yang di ikuti sanggup dicapai secara bermakna.
6. Guru menerapkan berguru dan pembelajaran bermakna di SD
Belajar pada hakikatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laris yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Pembelajaran pada hakikatnya yaitu suatu proses interaksi antara anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jikalau dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memperlihatkan rasa kondusif bagi anak. Proses berguru bersifat individual dan kontekstual. Artinya proses berguru terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningful learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi gres pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan berguru sebagai hasil dari insiden mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, infornasi atau situasi gres dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa.
Proses berguru tidaksekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidsk gampang dilupakan. Dengan demikian, biar terjadi berguru bermakna, maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara serasi konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan gres yang akan di ajarkan.
Dengan kata lain, berguru akan lebih bermakna jikalau anak mengalami lansung apa yang dipelajari dengan mengaktifkan lebih banyak indra daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.
Empat Kutub Pembelajaran
Hal ini sesuai dengan pendapat Ausuble dan Robinson(1968) yang mengembangkan pendekatan pembelajaran yang bertolak dari dua kontinum bersilangan, yaitu kontinum berguru mencari (discovery learning) –belajar mendapatkan (receptionlearnimg) dan berguru bermakna (discovery learning) - dan berguru menghafal (rote learning). Kedua kontinum tersebut membentuk empat kutub berguru yang sanggup digambarkan pada sebuah denah garis silang.
![]() |
| Empat Kutub Belajar dan Robinson |
7. Guru Harus memahami perbedaan kemampuan anak SD secara kongnitif, afektif, dan psikomotor dalam proses belajar.
Proses berguru siswa sebagai penggalan dari kurikulum dan pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kongnitif, afektif dan psikomotor. Berikut yaitu citra hubungan kurikulum dengan kemampuan siswa.
Hubungan Kurikulum dengan Kemampuan Siswa
Dalam taraf perkembangan pendidikan di sekolah, belum dewasa bukanlah organisasi yang pasif menyerupai yang diungkapkan Jhon Locke pada teori Tabula Rasa yang kemudian melahirkan aliran berguru behaviostik. Menurut kaum behaviostik sikap insan sangat di tentukan oleh lingkungan yang tiba dari luar lantaran itu setiap sikap sanggup di kontrol oleh stimulasi yang tiba dari luar.
Namun, teori ini kemudian terbantahkan oleh Leibnitz melalui orientasi fenomenologi yang menyatakan insan yaitu organisme yang aktif dan bebas untuk membuat pilihan dalam setiap situasi.Mau jadi apa nantinya insan tersebut bukan ditentukan oleh faktor lingkungan akan tetapi ditentukan oleh potensi yang dimiliki insan tersebut. Potensi atau kemampuan tersebut terdiri dari tiga komponen utama yakni kemampuan kongnitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotor.
1. Menyikapi Perbedaan Anak dalam Ranah Kongnitif
Setiap anak memperlihatkan kemampuan kongnitif yang berbeda-beda Gardner(1985) dalam Burden&Byrd (1998:255) mengungkapkan bahwa semua orang memilik kecerdasan. Ia memperlihatkan tujuh kecerdasan independen yaitu : bahasa, musik, logika, matematika, spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrupersonal.
Gardner menambahkan kecerdasan ke delapan pada karakteristik naturalistik. Menurut teori ini, seseorang mungkin mempunyai kelebiahan di satu keceradasan tetapi bukan berarti tidak memiliki kecerdasan di bidang lain. Hal ini membutuhkan penyesuaian antara kurikulum dan pengajaran yang berlangsung dengan kemampuan individu.
Stemberg (1988) mengemukakan bahwa pemahaman yang lebih khusus mengenai apa yang dilakukan orang-orang saat mereka memecahkan persoalan sehinggamereka sanggup dibantu dengan sikap yang cerdas.
Ia berendapat bahwa orang-orang yang cerdas memakai lingkungan untuk mencapai tujuan dengan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, mengubah lingkungan tersebut atau keluar dari lingkungan tersebut. Gardner dan Stemberg (1998) mengungkapkan bahwa bagi guru untuk menentukan teknik yang sempurna dalam pembelajaran ketika mempertimbangkan kongnitif murid yaitu sebagai berikut :
• Berharap bahwa murid mempunyai perbedaan.
• Mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencapai kompetensi.
• Menyadari bahwa kebutuhan-kebutuhan siswa tidak hanya dalam area-area defisit. Perkembangan potensi juga merupakan kebutuhan.
• Mengetahui catatan-catatan yang terdahulu.
• Mengetahui pengalaman terdahulu yang membentuk cara berpikir siswa.
• Menantang siswa dengan tugas-tugas yang bervariasi dan mencatat hasilnya.
• Menggunakan cara penilaian dan evaluasi yang bervariatif.
• Terus mengubah kondisi berguru untuk mengungkapakan potensi.
• Sewaktu-waktu menantang siswa untuk berprestasi melebhi yng didarapakan.
• Mencari sesuatu yang unik untuk sanggup dilakukan oleh masing-masing siswa.
Burden dan Bryd mengkategorikan pembelajaran dalam dua bentuk yakni :
a. Pembelajaran Lambat
Seorang siswa dianggap pembelajaran lambat jikalau tidak sanggup berguru pada tingkat rata-rata sumber, teks, buku tugas, dan materi pengajaran yang di rancang bagi lebih banyak didominasi di kelas (Bloom, 1982).
Siswa ini banyak mempunyai konsentrasi dan difisiensi yang terbatas dalam keahlihan dasar menyerupai membaca, menulis, dan matematika. Mereka perlu di beri perhatian lebih, instruksi, korektif, mempercepat pengajaran khusus, variasi pengajaran dan mungkinmateri oleh guru di dalam kelas yaitu :
• Serimg membuat variasi teknik pengajaran.
• Mengembangkan pembelajaran yang menyangkut minat, kebutuhan, dan pengalaman siswa.
• Menyediakan lingkungan yang mendorong dan mendukung.
• Menggunakan pembelajaran kooperatif peer tutor bagi siswa yang membutuhkan pemantapan.
• Menyediakan pembelajaran tambahan.
• Mengajarkan materi dan langkah-langkah kecil dan sering melaksanakan penilaian pemahaman.
• Menggunakan materi dan pengajaran individu jika memungkinkan.
• Menggunakan materi audio-visual untuk pengajaran.
b. Pembelajaran berbakat
Pembelajaran yang berbakat yaitu siswa yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata dan mereka membutuhkan pembimbingan pengajaran khusus. Sayangnya, beberapa guru kurang menantang siswa mempunyai kemampuan tinggi. Hal ini yang harus dilakukan di sekolah yaitu :
• Tidak mewajibkan untuk melaksanakan pengulangan terhadap materi yang telah di kuasai mereka.
• Memberikan pengajaran dengan kecepatan yang fleksibel.
• Menampungkan kurikulum dengan menghilangkan tugas-tugas yang tidak perlu biar waktu beraktivitas sanggup di gunakan untuk aktivitas yang lain.
• Mendukung siswa untuk lebih sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam belajar.
• Menggunakan mekanisme penilaian yang tidak menghambat siswa dan tidak menghukum mereka jikalau mempunyai acara mengajar yang kompleks.
2. Menyikapi Perbedaan Anak dalam Ranak Afektif
Pendidikan dalam ranah afektif berfokus pada perasaan dan sikap perkembangan emosional tidak gampang difasilitasi tetapi terkadang perasaan siswa mengenai kemampuan meraka atau kemampuan mata pelajaran yang sama penting dengan nfomasi yang meraka pelajari (Salvin,1997). Beberapa hal yang sanggup dilakukan untuk mendorong kemapuan afektif yaitu :
• Mengetahui nama siswa sedini mungkin.
• Menerima siswa apa adanya lantaran siswa memilki kualitas yang menarik dan berharga.
• Mengigat pemahaman terdahulu yang membentuk perasaan siswa.
• Mengamati siswa, mengetahui suasana hati dan reaksi dari hari ke hari
• Melakukan pengalaman dalam jangka waktu tertentu.
• Mengamati perubahan, stabilitas dalam kondisi yang berbeda.
3. Menyikapi Perbedaan Anak dalam Ranah Psikomotor
Terkait dengan kemampuan berkarya ini, hal-hal yang harus dilakukan yaitu :
• Mendengar respon-respon kreatif.
• Menghargai respon-respon kreatif dengan meminta siswa yang kreatif.
• Menciptakan suasana berguru yang kraetif, dan bukan konvensional.
• Membolehkan beberapa karya menjadi open-end, mungkin berantaka, dan tidak sanggup dinilai untukmendorong mereka biar mengeksplorasi.
• Membangun lingkungan berguru yang fleksibel di mana siswa bebas membuat pilihan dan melaksanakan minat-minat pribadi.
Demikianlah 20+ Cara Mendidik dan Mengajar Anak SD Yang Baik dan Benar, semoga bermanfaat. Sumber http://www.rijal09.com

