Berbagi ilmu - Insiden penggerebekan kantor pengembang game "Gameloft" di Yogyakarta dianggap hanya kesalahpahaman. Pihak "Gameloft" sendiri sudah memaafkan kesalahan penggerebekan yang dilakukan kepolisian pada Senin (10/11/2014).
Andrei Vladimir Lascu, Studio Manager Gameloft, menyampaikan telah memaafkan tindakan dari pihak kepolisian itu. Menurut dia, hal ini terjadi alasannya yakni kesalahpahaman saja.
"Peristiwa kemarin hanya soal kesalahpahaman saja. Kami memaafkan," kata Andrei.
Seperti diberitakan, tim adonan dari Polresta Yogyakarta dan Polsekta Wirobrajan mendatangi kantor Gameloft yang berlokasi di Wirobrajan Yogyakarta, pada Senin siang.
Putra Dia, Human Resources Manager Gameloft, menuturkan, sekitar pukul 12.00 WIB ada beberapa anggota polisi berpakaian preman tiba ke kantor. Anggota polisi tiba alasannya yakni ada laporan jikalau kantor Gameloft Studio 2 dipakai sebagai daerah sentra jodionline.
Satpam yang berjaga dikala lantas menanyakan surat penggeledahan. Namun, lanjutnya, anggota polisi justru menariknya ke pos satpam dan memukulnya.
"Ya masuk akal jikalau satpam menanyakan surat, soalnya polisi yang tiba memakai pakaian bebas," ujar Putra dikala ditemui seusai bertemu Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Selasa pagi.
Putra mengungkapkan, tak beberapa usang sehabis anggota polisi berpakaian preman datang, disusul oleh anggota lainnya dan membawa surat penggeledahan.
"Kami terangkan bahwa ini kantor pembuatan game. Bukan daerah jodi online, ini kantor resmi. Setelah itu mereka kemudian pergi," tegasnya.
Terkait agresi pemukulan yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap salah satu satpam perusahaan, pihak Gameloft tidak akan mempermasalahkannya ataupun tidak akan membawa hingga ke ranah hukum. "Kami tidak ingin memperpanjang kejadian itu. Kami sudah memaafkan," katanya.
Pihak kepolisian melalui Kapolres Yogyakarta Komisaris Besar Slamet Santoso telah membantah bahwa pihaknya melaksanakan penggerebekan di Studio 2 PT Gameloft Indonesia. Slamet mengaku, polisi hanya menindaklanjuti laporan masyarakat bahwa di lokasi tersebut telah dijadikan daerah jodi online. Slamet mengungkapkan, dari hasil pengecekan anggota di lokasi, tidak ditemukan adanya indikasi jodi online.
Sumber http://www.blogotech.net"Peristiwa kemarin hanya soal kesalahpahaman saja. Kami memaafkan," kata Andrei.
Seperti diberitakan, tim adonan dari Polresta Yogyakarta dan Polsekta Wirobrajan mendatangi kantor Gameloft yang berlokasi di Wirobrajan Yogyakarta, pada Senin siang.
Putra Dia, Human Resources Manager Gameloft, menuturkan, sekitar pukul 12.00 WIB ada beberapa anggota polisi berpakaian preman tiba ke kantor. Anggota polisi tiba alasannya yakni ada laporan jikalau kantor Gameloft Studio 2 dipakai sebagai daerah sentra jodionline.
Satpam yang berjaga dikala lantas menanyakan surat penggeledahan. Namun, lanjutnya, anggota polisi justru menariknya ke pos satpam dan memukulnya.
"Ya masuk akal jikalau satpam menanyakan surat, soalnya polisi yang tiba memakai pakaian bebas," ujar Putra dikala ditemui seusai bertemu Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Selasa pagi.
Putra mengungkapkan, tak beberapa usang sehabis anggota polisi berpakaian preman datang, disusul oleh anggota lainnya dan membawa surat penggeledahan.
"Kami terangkan bahwa ini kantor pembuatan game. Bukan daerah jodi online, ini kantor resmi. Setelah itu mereka kemudian pergi," tegasnya.
Terkait agresi pemukulan yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap salah satu satpam perusahaan, pihak Gameloft tidak akan mempermasalahkannya ataupun tidak akan membawa hingga ke ranah hukum. "Kami tidak ingin memperpanjang kejadian itu. Kami sudah memaafkan," katanya.
Pihak kepolisian melalui Kapolres Yogyakarta Komisaris Besar Slamet Santoso telah membantah bahwa pihaknya melaksanakan penggerebekan di Studio 2 PT Gameloft Indonesia. Slamet mengaku, polisi hanya menindaklanjuti laporan masyarakat bahwa di lokasi tersebut telah dijadikan daerah jodi online. Slamet mengungkapkan, dari hasil pengecekan anggota di lokasi, tidak ditemukan adanya indikasi jodi online.
